Weekly Currency 10 December 2007

11 12 2007

Nilai tukar Yen melemah terhadap USD dalam perdagangan minggu kemarin. Pada hari kedua perdagangan, Yen sempat ditutup menguat pada level 109.9 dari level 112.2 pada penutupan hari Jumat minggu sebelumnya (30 November 2007). Namun pada perdagangan berikutnya, Yen kembali melemah. Yen akhirnya ditutup pada level 111.7 di hari Jumat yang lalu (7 Desember 2007). Secara keseluruhan, Yen melemah sebesar 0.4% dibandingkan penutupan minggu sebelumnya.

Apabila pada dua pekan sebelumnya Yen melemah cukup signifikan akibat menguatnya aktivitas carry trade, pergerakan Yen pada pekan kemarin bersifat mixed dan relatif terbatas. Hal ini sedikit banyak menunjukkan bahwa investor global memilih untuk berhati – hati mengantisipasi putusan The Fed pertengahan pekan ini.

Untuk perdagangan minggu ini, nilai tukar Yen terhadap Dolar Amerika masih akan dipengaruhi oleh perkembangan data ekonomi terakhir baik di Jepang maupun Amerika. Data terakhir menunjukkan terjadi peningkatan permintaan mesin produksi untuk korporasi di Jepang, yang mengindikasikan antisipasi korporasi Jepang atas peningkatan permintaan baik di wilayah domestik-regional (Jepang dan Asia) maupun di tingkat global. Hasil survei bisnis yang dilakukan oleh Bank Sentral Jepang (BoJ) memperkuat hal ini. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa mayoritas CEO perusahaan besar di Jepang berencana untuk meningkatkan belanja modal perusahaan pada penghujung tahun 2007 ini. Selain itu diperkirakan investor global akan mengantisipasi penurunan Fed Funds Rate dengan kembali melakukan aktivitas carry trade pada pekan ini. Karena itu, Yen diperkirakan akan melemah dalam perdagangan minggu ini dan bergerak di kisaran 110.5 – 113.0. Read the rest of this entry »





Daya Beli Masih Memburuk

9 04 2007

Dampak kenaikan harga beras pada angka inflasi tahunan tampaknya akan segera hilang dalam waktu dekat. Namun, dampak negatif terhadap daya beli masyarakat belum akan hilang dengan cepat. Di masa yang akan datang perlu dihindari terjadinya kejutan-kejutan negatif agar pemulihan ekonomi yang sedang terjadi dapat berkesinambungan.

Kenaikan harga beras yang terjadi sejak bulan Desember tahun lalu telah menimbulkan tekanan inflasi yang cukup tinggi, terutama di bulan Desember dan di bulan Januari. Kenaikan harga beras biasanya diikuti oleh kenaikan harga bahan makanan lainnya, sehingga dampak kenaikan harga beras terhadap inflasi keseluruhan amat terasa. Di bulan Desember 2006 inflasi bulanan mencapai 1,21 persen, yang membuat laju inflasi tahunan naik menjadi 6,60 persen (dari 5,27 persen di bulan Nopember). Sedangkan di bulan Januari 2007 laju inflasi bulanan mencapai 1,04 persen, dengan laju inflasi tahunan sebesar 6,26 persen. Read the rest of this entry »





Voluntarily Delisting di Pasar Modal Indonesia

12 02 2007

Tren IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di bursa saham kita dalam dua tahun terakhir ini menunjukkan kenaikan yang amat signifikan. Kenaikan ini terjadi karena didasari oleh perbaikan keadaan fundamental perekonomian kita, dan ekspektasi investor asing maupun domestik bahwa perekonomian kita akan terus membaik di masa yang akan datang. Namun, fenomena delisting yang masih terjadi di bursa saham kita telah menimbulkan sedikit kecemasan tentang prospek pasar saham kita di masa yang akan datang.

Kinerja pasar modal kita dalam dua tahun terakhir ini cukup luar biasa. IHSG mengalami kenaikan yang signifikan dan berkelanjutan ( sustainable) sejak akhir tahun 2005. Dan pada bulan January 2006 IHSG mencapai 1232,3, naik sebesar 17,9, persen dibandingkan dengan level pada bulan Januari tahun 2005 yang berada pada 1045,4. Seiring dengan berkembangnya sentiment positif terhadap prospek perekonomian Indonesian, IHSG terus mengalami kenaikan sepanjang tahun 2005. IHSG mencapai level sekitar 1757,3 pada bulan Januari tahun 2007, atau mengalami kenaikan sebesar sekitar 68 persen dibandingkan dengan level pada bulan January 2006. Dengan kinerja yang demikian, pasar modal Indonesisa merupakan salah satu pasar modal yang menunjukkan kinerja tertinggi (dilihat dari kenaikan indeks harga saham gabungan) di dunia pada tahun 2006.

Walaupun demikian, bukan berarti tidak ada masalah atau potensi masalah di bursa saham kita. Isu delisting merupakan salah satu masalah yang sedang dihadapi pasar modal kita sekarang. Akhir-akhir ini persoalan delisting (penghapusan pencatatan efek perusahaan di bursa efek) kembali marak dibicarakan oleh berbagai pelaku dan pemerhati pasar modal di Indonesia. Beberapa perusahaan potensial yang sudah lama mencatatkan diri di Bursa Efek Jakarta (BEJ) tiba-tiba mengumumkan rencananya kepada pihak otoritas bursa untuk melakukan go private secara sukarela.

Berbagai alasan dikemukakan oleh perusahaan-perusahaan yang memutuskan untuk keluar dari bursa saham. Salah satu alasan yang sering disebut oleh perusahaan multinasional adalah adanya program konsolidasi regional yang dilakukan oleh perusahaan induk. Alasan lain yang sering diutarakan oleh perusahaan multinasional adalah konsolidasi finansial yang dilakukan oleh perusahaan induk. Selain itu, ada beberapa alasan lain yang masih perlu dikaji kebenarannya lebih lanjut melalui suatu analisa dan survei yang lebih mendalam, misalnya kurangnya insentif-insentif khusus yang diberikan pemerintah, –seperti perpajakan atau kemudahan perijinan– bagi perusahaanperusahaan yang tercatat di bursa. Sementara itu, otoritas pasar modal juga dipandang melakukan pengawasan yang terlalu kaku sehingga mempersulit perusahaan terbuka dalam proses pengambilan kebijakan.

Tentu saja alasan-alasan yang disebutkan oleh perusahan-perusahaan di atas belum sepenuhnya benar. Walaupun demikian, satu hal yang perlu disadari adalah fenomena delisting saat ini masih terjadi di bursa saham kita. Hal ini, apabila berlanjut terus, tentunya pada akhirnya akan berdampak tidak terlalu baik bagi bursa saham kita. Untuk mencegah terjadinya delisting secara berkelanjutan diperlukan pemahaman yang mendasar tentang faktor-faktor penyebab utama terjadinya delisting di bursa saham kita secara komprehensif.

Studi ini dilakukan untuk menganalisa faktor-faktor pemicu utama terjadinya delisting secara lebih komprehensif. Dalam studi ini, faktor-faktor mikro pemicu tersebut akan juga dikaitkan dengan kondisi makro dan iklim usaha Indonesia secara keseluruhan. Hal ini dilakukan karena adanya dugaan bahwa maraknya delisting yang dilakukan terutama oleh perusahaan-perusahaan multinasional juga terkait dengan tidak kondusifnya iklim usaha secara makro di Indonesia. Aspek lingkungan bisnis ini diduga turut pula mempengaruhi keputusan perusahaan-perusahaan –terutama perusahaan-perusahaan PMA, untuk melakukan voluntarily delisting . Studi ini diharapkan dapat memberikan jawaban yang lebih jelas tentang penyebab delisting , sekaligus langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk mencegah trend delisting yang berkelanjutan di pasar modal kita. Voluntarily Delisting di Pasar Modal Indonesia