Daya Beli Masih Memburuk

9 04 2007

Dampak kenaikan harga beras pada angka inflasi tahunan tampaknya akan segera hilang dalam waktu dekat. Namun, dampak negatif terhadap daya beli masyarakat belum akan hilang dengan cepat. Di masa yang akan datang perlu dihindari terjadinya kejutan-kejutan negatif agar pemulihan ekonomi yang sedang terjadi dapat berkesinambungan.

Kenaikan harga beras yang terjadi sejak bulan Desember tahun lalu telah menimbulkan tekanan inflasi yang cukup tinggi, terutama di bulan Desember dan di bulan Januari. Kenaikan harga beras biasanya diikuti oleh kenaikan harga bahan makanan lainnya, sehingga dampak kenaikan harga beras terhadap inflasi keseluruhan amat terasa. Di bulan Desember 2006 inflasi bulanan mencapai 1,21 persen, yang membuat laju inflasi tahunan naik menjadi 6,60 persen (dari 5,27 persen di bulan Nopember). Sedangkan di bulan Januari 2007 laju inflasi bulanan mencapai 1,04 persen, dengan laju inflasi tahunan sebesar 6,26 persen.

Untungnya, di bulan Februari harga beras sudah relatif terkendali. Suplai beras dari daerah yang mulai mengalami panen padi menjelang akhir Februari sedikit mengurangi tekanan kenaikan harga beras. Di samping itu, operasi pasar beras yang dilakukan oleh pemerintah tampaknya dapat mencegah kenaikan harga beras ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Di bulan Maret harga beras bahkan mengalami penurunan. Akibatnya, laju inflasi di bulan Maret hanya mencapai 0,22 persen. Di bulan April diperkirakan bahkan akan terjadi deflasi, karena harga beras diperkirakan akan terus turun seiring dengan memuncaknya musim panen. Jadi, dampak kenaikan harga beras (dan bahan makanan) tampaknya akan segera hilang dari angka inflasi tahunan.

Namun, ada dampak lain yang perlu diwaspadai. Harga beras yang tinggi dalam empat bulan terakhir ini ternyata memberi dampak negatif yang amat signifikan terhadap daya beli masyarakat kita.

Indeks Kepercayaan Konsumen

Ada banyak cara untuk mengukur perubahan daya beli atau keadaan ekonomi masyarakat kita, salah satu diantaranya ialah dengan menggunakan hasil survey kepercayaan konsumen. Setiap bulan Danareksa Research Insitute malakukan survey konsumen untuk mengukur perubahan keadaan ekonomi masyarakat. Survey dilakukan secara tatap muka terhadap 1700 rumah tangga di 6 propinsi di Indonesia. Survey dilakukan di daerah perkotaan, di pinggiran kota, maupun di daerah terpencil.

Salah satu hasil dari survey tersebut adalah Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK). IKK adalah suatu indeks yang menggambarkan pandangan masyarakat terhadap keadaan ekonomi mereka. IKK amat berguna untuk menilai keadaan ekonomi (termasuk daya beli) masyarakat kita secara keseluruhan. IKK juga berguna untuk mengetahui arah pergerakan ekonomi kita mengingat belanja rumah tangga memberi kontribusi sebesar sekitar 65 persen terhadap PDB kita.

Interpretasi IKK cukup sederhana. IKK yang meningkat menunjukkan keadaan ekonomi masyarakat yang membaik, sedangkan IKK yang menurun menunjukkan keadaan ekonomi masyarakat yang memburuk. Tren IKK yang naik biasanya akan diikuti oleh peningkatan belanja konsumen. Dan bila level IKK sudah melebihi angka 100, biasanya peningkatan belanja konsumen yang terjadi amat signifikan. Sebaliknya, tren IKK yang turun biasanya diikuti oleh kecenderungan pengurangan belanja oleh konsumen. Dan bila IKK berada pada level yang rendah terlalu lama, maka bukan tidak mungkin konsumen akan mengurangi belanja mereka secara signifikan, sehingga perekonomian dapat memasuki masa resesi.

Pergerakan IKK sering searah (gambar 1) dengan pergerakan Coincident Economic Index (CEI). CEI adalah indeks yang menggambarkan keadaan ekonomi pada saat ini. CEI yang naik menggambarkan pertumbuhan ekonomi yang meningkat, dan CEI yang menurun menggambarkan aktivitas perekonomian yang melambat. CEI ini disusun dengan menggunakan informasi konsumsi semen, angka penjualan mobil, indeks penjualan retail, angka impor, dan jumlah uang beredar. IKK memiliki keunggulan dari CEI dalam hal data IKK tersedia lebih awal dua bulan dari data CEI. Artinya, IKK dapat memberikan gambaran keadaan perekonomian lebih dini.

Recovery Terganggu

IKK dapat menggambarkan perubahan keadaan ekonomi masyarakat kita dengan cukup baik. Di bulan Oktober tahun 2005, ketika harga BBM dinaikkan rata-rata sebesar 126 persen, IKK jatuh ke level 73,3. Level ini adalah level terendah dalam sejarah survey ini (survey ini dilakukan sejak tahun 1999). Jatuhnya IKK ini menggambarkan terpuruknya keadaan ekonomi masyarakat kita (daya beli pun menurun). Akibatnya, belanja rumah tangga pun terganggu. Hal ini menyebabkan penurunan aktivitas perekonomian secara signifikan di kuartal ke empat tahun 2005.

 

 

Untungnya, IKK tidak bertahan di level yang rendah untuk waktu yang terlalu lama. Penyesuaian gaji dan upah di tahun 2006 dan semakin membaiknya perekonomian dunia mendorong perbaikan keadaan ekonomi masyarkakat. Kenaikan gaji memperbaiki daya beli secara langsung. Sedangkan membaiknya ekonomi dunia mendorong terjadinya peningkatan ekspor Indonesia. Artinya, ada peningkatan kegiatan produksi (dan penciptaan lapangan kerja). Akibatnya, IKK pun berangsur angsur mengalami peningkatan. Kenaikan yang signifikan terjadi pada bulan Maret 2006, dimana IKK naik ke level 84,5 dari 78,3 di bulan Februari.

 

Sementara itu, seperti kita ketahui, penurunan suku bunga yang dilakukan oleh BI sejak bulan Mei 2006 pun memberi dampak yang positif terhadap keadaan ekonomi kita secara keseluruhan. Perbaikan ini tercermin pula pada perbaikan keadaan ekonomi masyarakat kita, seperti yang ditunjukkan oleh IKK yang terus mengalami kenaikan signifikan di triwulan ke tiga dan di triwulan ke empat tahun 2006.

 

 

Di bulan Nopember 2006 IKK mencapai 91,6. Level ini merupakan level tertinggi IKK dalam satu setengah tahun terakhir. Artinya, masyarakat kita sudah hampir sepenuhnya dapat menyesuaikan diri dari dampak negatif kenaikan harga BBM yang gila-gilaan di bulan Oktober 2005. Dalam keadaan ini tentunya tidaklah terlalu sulit untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke level yang lebih tinggi.

 

 

Sayangnya, pemerintah kurang berhasil mengantisipasi isu kelangkaan beras. Akibatnya, keadaan ekonomi masyarakat kita kembali mengalami gangguan. IKK di bulan Desember turun tajam ke 84,1 dari 91.6 di bulan Nopember (turun sebesar 8,3 persen). IKK tetap berada di level yang relatif sama di bulan Januari. Bahkan di bulan Februari 2007 IKK mengalami penurunan lagi ke 82,7, dan turun lagi ke level 81,1 di bulan Maret 2007. Level ini berada di bawah level di bulan Maret 2006. Artinya, harga beras yang tinggi bukan saja telah meningkatkan tekanan inflasi, tapi juga telah menggerus daya beli masyarakat secara signifikan. Akibatnya, aktivitas perekonomian pun tampak agak melambat sejak bulan Desember lalu.

 

 

IKK yang saat ini berada pada level yang relatif rendah tidak harus menunjukkan bahwa ekonomi kita akan terus terpuruk sepanjang tahun 2007 ini. Perlu diutarakan di sini bahwa penurunan IKK saat ini terutama disebabkan oleh faktor musiman harga beras. Diperkirakan IKK akan membaik lagi bila harga beras (dan bahan makanan lainnya) sudah kembali normal lagi. Pada saat itu, dampak penurunan suku bunga terhadap perekonomian kita akan menjadi terasa lagi. Dan bila suku bunga dapat turun ke bawah 8 persen, laju pertumbuhan ekonomi sebesar 6,2 persen bukan hal yang mustahil untuk dicapai.

 

 

Walupun demikian, di masa yang akan datang perlu dihindari terjadinya kejutan negatif berulang-ulang seperti yang terjadi dalam dua tahun terakhir ini (seperti kakenaikan harga BBM yang dampaknya kurang diperhitungkan, dan keterlambatan mengantisipasi kelangkaan beras). Pemerintah perlu menghitung dengan lebih seksama dampak dari kebijakan yang ditempuhnya (atau tidak ditempuhnya) terhadap perekonomian. Kegagalan memperbaiki hal tersebut dapat mengancam kesinambungan pemulihan ekonomi yang sedang terjadi.


Actions

Information

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: